Sabtu, 12 Januari 2013

Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. Dimulai dari Nabi Adam
a.s. dan Nabi Muhammad saw. menjadi penutup seluruh risalah. Allah swt.
menegaskan hal ini melalui lisan para nabi. Misalnya dari lisan Nabi Nuh a.s. sendiri
kita mendapat informasi bahwa Allah menyuruhnya menjadi muslim. “… dan aku
disuruh supaya tergolong menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslim).”
(Yunus: 72)
Islam Agama Para Nabi dan Rasul
Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. Dimulai dari Nabi Adam
a.s. dan Nabi Muhammad saw. menjadi penutup seluruh risalah. Allah swt.
menegaskan hal ini melalui lisan para nabi. Misalnya dari lisan Nabi Nuh a.s. sendiri
kita mendapat informasi bahwa Allah menyuruhnya menjadi muslim. “… dan aku
disuruh supaya tergolong menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslim).”
(Yunus: 72)
Hal yang sama juga keluar dari lisan Nabi Ibrahim dan Isma’il. “Ya Rabb kami, jadikanlah
kami berdua sebagai orang-orang yang berserah diri kepada-Mu (muslim)….” (Al-Baqarah:
128).
Dan, agama Islam-lah yang diwasiatkan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. “Hai anak-
anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) untukmu, maka janganlah kamu mati
kecuali dalam keadaaan tetap memeluk agama Islam.” (Al-Baqarah: 132).
Nabi Musa a.s. pun menekankan hal yang sama kepada para pengikutnya. “… maka
hendaklah hanya kepada-Nya kamu bertawakal jika kamu benar-benar muslim (orang yang
berserah diri kepada-Nya).”
Karena itu tak heran jika Nabi Yusuf a.s. sangat berharap mati dalam keadaan Islam. “…
wafatkanlah aku sebagai seorang muslim, dan gabungkan aku bersama orang-orang yang shalih.”
(Yusuf: 10).
Itu juga yang diminta diminta para ahli sihir Fir’aun yang bertaubat dan beriman
kepada Allah saat kalah melawan Musa a.s. lalu dihukum salib oleh Fir’aun. “Ya Rabb
kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam (berserah
diri sepenuhnya kepada-Mu).” (Al-A’raf: 126).File ini di download dari http://lindafitriani.multiply.com
Find other Islamic articles in my multiply
2
Hawariyin (pengikut setia Nabi Isa a.s.) pun menegaskan identitas keimanan mereka
sebagai orang Islam. “Kami beriman kepada Allah dan kami bersaksi sesungguhnya kami
adalah muslim (orang-orang yang berserah diri).” (Ali Imran: 52).
Ratu Saba’ menegaskan hal yang sama bahwa ia telah beriman kepada Allah dan telah
menjadi seorang muslimah. Wa aslamtu ma’a Sulaiman lillahi rabbil alamiin “… dan aku
berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (An-Naml: 44)
Rasulullah saw. menegaskan bahwa agama para nabi dan rasul adalah satu: Islam.
“Nabi-nabi itu bersaudara lain ibu. Ibunya berbeda-beda, tetapi agamanya satu,” begitu kata
beliau.
Wa diinuhum waahidan yang dikatakan Rasulullah saw. adalah sesuai dengan apa yang
ditegaskan oleh Allah swt. dalam Al-Qur’an. “Dia telah mensyariatkan agama kepadamu,
sebagaimana yang diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan yang telah diwahyukan kepadamu dan
Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu
bercerai-berai di dalamnya….” (Asy-Syura: 13).
Makna Islam
Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah swt. dengan menerima segala perintah,
larangan, dan kabar-Nya yang terdapat dalam wahyu. Siapa yang menyerahkan wajah,
hati, dan anggota badannya kepada Allah swt. dalam semua aspek kehidupan, maka ia
adalah seorang muslim.
Para nabi dan rasul adalah orang-orang muslim terdepan yang paling menyerahkan diri
kepada Allah swt. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah Rabb alam semesta. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku
adalah orang-orang Islam pertama,” begitu senandung mereka. (lihat Al-An’am: 162-163
dan lihat juga Al-A’raf: 143).
Tidak menyerahkan diri secara total kepada Allah swt. dan tidak menerima hukum-
hukum-Nya untuk diaplikasikan dalam kehidupan, kita belum dianggap Islam. Hal ini
termaktub dalam pernyataan Allah swt. Al-Qur’an ketika ada yang menolak Rasulullah
menerapkan hukum seperti yang telah Allah tetapkan. “Maka demi Rabb-mu, nereka tidak
beriman (sebenarnya) hingga mereka menjadikan kamu hakim untuk memutuskan perselisihan di
antara mereka, kemudian mereka tidak merasa dalam dirinya keberatan dalam putusanmu, dan
mereka menerima dengan sepenuh hati.” (An-Nisa: 65).
Hukum-hukum Allah hanya dapat diketahui dengan perantara wahyu yang sampai
kepada kita melalui para rasul yang jujur. Jika manusia punya logika yang jernih, tidak
ada alasan baginya untuk tidak menerima dan melaksanakan hukum-hukum Allah.
Sebab, Allah yang menciptakan kita. Sudah seharusnya kita tunduk dan patuh kepada
Sang Pencipta. Konsekuensi menjadi hamba adalah mentaati peraturan yang ditetapkanFile ini di download dari http://lindafitriani.multiply.com
Find other Islamic articles in my multiply
3
oleh Allah swt. Dan, sudah pasti aturan-aturan itu adalah kaidah-kaidah yang sesuai
dengan karakteristik kita sebagai manusia karena dibuat oleh Allah Yang Mengetahui
segala sesuatu lagi Maha Bijaksana.
Nabi Diutus ke Semua Umat
Kedamaian hidup manusia sangat ditentukan oleh penyerahan dirinya secara total
kepada Allah swt. Karena itu, Allah tidak membiarkan satu umat pun tanpa didatangi
rasul. “… dan setiap umat mempunyai seorang pemberi peringatan” (Al-Fathir: 24). “Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (yang menyeru) sembahlah Allah
(saja) dan jauhilah thaghut…” (An-Nahl: 36). “Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun
melainkan dengan bahasa mereka, agar ia dapat memberi penjelasan yang terang kepada
mereka…” (Ibrahim: 4).
Rasululah saw. pernah menjelaskan kedudukan umatnya terhadap umat-umat nabi
sebelumnya. Kata beliau, “Kamu sekalian menyempurnakan 70 umat, dan kamu adalah
yang sebaik-baik dan semulia-mulia umat di sisi Allah.” (Tirmidzi).
Jadi, sangat keliru jika ada yang berasumsi bahwa para rasul hanya diutus kepada umat
tertentu saja dan di kawasan lain tidak pernah diutus rasul. Sebab, secara tegas Allah
menyatakan kepada semua umat manusia telah sampai risalah dan ada rasul di antara
mereka. Hanya saja kita tidak boleh gegagah menyatakan bahwa si A adalah rasul yang
diutus Allah untuk orang-orang Persia, si B nabi untuk orang Cina, si C untuk orang
India; si D nabi penduduk asli pedalaman Amerika; kecuali ada wahyu yang
mengabarkannya kepada kita.
Apakah Zaratusta nabi untuk orang Persia kuno? Tidak ada nash yang menerangkan
hal itu kepada kita. Tapi, kita yakin bahwa orang-orang Persia kuno pernah punya rasul
yang memberi peringatan kepada mereka. Hanya saja, kata Ibnu Abbas, “Ketika nabi
yang diutus kepada penduduk Persia wafat, Iblis menulis (mengajaarkan) agama Majusi
kepada mereka.” (Abu Dawud. Lihat Jami’ul Ushul).

0 komentar:

Posting Komentar